Selasa, 10 Januari 2012

Pendekatan Konsep dan Proses, Pendekatan Deduktif dan Induktif, dan Pengertian Pengajaran sbm

2.1. Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah guru memberikan konsep tertentu kepada siswa, lebih kepada konsep saja. Pada pendekatan model ini siswa dibimbing memahami suatu bahasan dengan memahami konsep-konsep yang terkandung didalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan sub konsep yang menjadi sasaran utama pembelajaran. Pendekatan ini kurang memperhatikan aspek student centre. Guru terlalu dominan dan siswa membimbing untuk memahami konsep.
Contoh :
Siswa diberikan konsep-konsep atau metode tentang diferensial. Dalam hal ini guru lebih memberikan konsep dan siswa dituntut untuk memahami lebih jauh materi yang diajarkan.

2.2.Pendekatan Proses
Pendekatan proses adalah siswa diberikan keleluasaan untuk mencari konsep itu sendiri. Pada pendekatan proses tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses atau langkah-langkah ilmiah seperti melakukan pengamatan, penafsiran data, dan mengkomunikasikan hasil pengamatan.
Contoh :
Guru memberikan tugas dalam bentuk observasi. Siswa dituntut untuk mencari tahu proses terjadinya sesuatu, sebab akibat, serta memberikan suatu analisis dari apa yang mereka amati.





2.3. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif adalah guru menjelaskan secara umum lalu ke khusus atau dari yang abstrak ke konkrit. Pendekatan pembelajaran deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi, dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Model ini dilandasi suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berjalan dengan baik. Bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya, model ini cenderung berorientasi pada perolehan materi. Perencanaan model deduktif meliputi identifikasi tujuan pembelajaran dan penyiapan konsep.
Pendekatan deduktif bertolak dari pandangan bahwa tingkah laku kelas pengajaran dan distribusi pengetahuan itu dikontrol dan ditentukan oleh guru. Maka hakikat mengajar menurut pandangan ini adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan (dari) guru. Biasanya guru menyampaikan informasi mengenai bahan pengajaran dalam bentuk penjelasan dan penuturan lisan (dengan metode ceramah).
Pendekatan deduktif ini menuntut peserta didik untuk dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan oleh guru, serta mengungkapkan kembali/mereproduksi apa yang telah dimilikinya melalui respon yang diberikan pada saat guru melontarkan pertanyaan. Di sini digunakan “komunikasi satu arah atau komunikasi aksi”. Karenanya, kegiatan belajar peserta didikkurang optimal sebab terbatas pada mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru, sekali-sekali bertanya pada guru. Tetapi jika guru kreatif, biasanya ia menggunakan alat bantu (media pengajaran) dalam memberikan dan menjelaskan informasi/pesan pada peserta didik, disamping memberikan kesempatan bertanya pada peserta didik.
Contoh :
Misalkan pada materi tentang HIMPUNAN. Pada awalnya guru memberikan pengertian, konsep dasar, operasi-operasi pada himpunan. Selanjutnya dari pokok-pokok materi yang disampaikan, guru menjelaskan bagian-bagian atau sub-sub dari penjabaran sebelumnya.


2.4. Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif adalah guru memberikan fakta terlebih dahulu lalu menerangkan teori yang terkandung didalamnya. Ciri utama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk membangun pengertian. Dalam artian pendekatan induktif merupakan pendekatan pembelajaran dengan penerapan konsep, definisi, dan istilah-istilah pada akhiran akhir pembelajaran. Data yang digunakan dalam pendekatan induktif mungkin merupakan data primer, atau dapat pula berupa kasus-kasus yang nyata yang terjadi di lingkungan. Dalam strategi ini, guru mempresentasikan data tersebut, guru mengajak siswa untuk membangun konsep atau pengertian. Dalam perencanaan strategi induktif, guru harus memikirkan data yang akan ditampilkan untuk memperoleh konsep tertentu. Selain itu guru juga harus memikirkan bagaimana aktivitas yang akan terjadi di kelas tersebut.
Pendekatan induktif berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subjek disamping sebagai objek pengajaran (belajar). Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Maka, proses pengajaran harus dipandang sebagai stimulus /rangsangan yang dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat /partisipasi dalam aktivitas pengajaran. Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru. Ada 5 tahap yang harus ditempuh, antara lain:
- Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik
- Penetapan jawaban sementara/pengajuan hipotesis
- Peserta didik mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab /memecahkan masalah dan menguji hipotesis
- Menarik kesimpulan dari jawaban/generalisasi
- Aplikasi kesimpulan /generalisasi dalam situasi baru

Dalam pendekatan induktif ini digunakan komunikasi multi arah, yaitu komunikasi sebagai transaksi. Untuk dapat menggunakan pendekatan induktif ini diperlukan persyaratan sebagai berikut:
- Guru harus terampil memilih masalah yang relevan dan sesuai daya nalar peserta didik
- Guru harus terampil member motivasi belajar dan menciptakan situasi pengajaran yang menyenangkan/menarik minat peserta didik
- Tersedia fasilitas dan sumber belajar yang memadai
- Terjamin kebebasan peserta didik dalam berpendapat, berkarya, dan sebagainya
- Kesediaan/kesiapan peserta didik untuk partipasi aktif dalam belajar
- Guru tak banyak intervensi dalam kegiatan belajar peserta didik

Contoh :

Guru memberikan semacam peristiwa-peristiwa yang kerap terjadi di lingkungan kehidupan nyata, seperti tindakan-tindakan kriminal ataupun kekerasan. Selanjutnya siswa yang diminta untuk mencari konsep atau definisi dari contoh-contoh yang telah diberikan.



2.5. Pengertian Pengajaran

Pengajaran adalah suatu aktivitas (proses) mengajar belajar. Didalamnya ada dua subjek yaitu guru dan peserta didik. Istilah peserta didik digunakan untuk menggantikan istilah anak didik, objek didik, atau sebagai istilah lain murid/siswa. Pemakaian istilah peserta didik lebih mengandung sifat yang umum : siswa/mahasiswa, dan lebih bersifat aktif serta bersifat memanusiakan daripada istilah anak didik atau objek didik.
Pengajaran merupakan aktivitas (proses) yang sistematis dan sistemik yang terdiri dari banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran tidak bersifat parsial (terpisah) atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung, komplementer, dan berkesinambungan. Untuk itu diperlukan pengelolaan pengajaran yang baik. Pengelolaan pengajaran yang baik harus dikembangkan berdasarkan pada prinsip-prinsip pengajaran.
Pandangan tentang istilah pengajaran terus menberus berkembang dan mengalami kemajuan. Tingkat kemajuan itu dapat kita lihat dalam uraian sebagai berikut :
1. Pengajaran maksudnya sama dengan kegiatan mengajar
Kegiatan itu dilakukan oleh guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Kegiatan guru adalah yang paling aktif, paling menonjol, dan paling menentukan. Pengajaran sama artinya dengan perbuatan mengajar.
2. Pengajaran adalah interaksi belajar dan mengajar
Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Diantara keduanya terdapat hubungan atau komunikasi interaksi. Guru mengajar disatu pihak dan siswa belajar dilain pihak. Keduanya menunjukkan aktivitas yang seimbang hanya berbeda peranannya saja.
Proses pengajaran itu berlangsung dalam situasi pengajaran, dimana didalamnya terdapat komponen-komponen atau factor-faktor, yaitu:
a. Tujuan mengajar
b. Siswa yang belajar
c. Guru yang mengajar
d. Metode mengajar
e. Alat bantu mengajar
f. Penilaian
g. Situasi pengajaran

Didalam proses pengajaran itu, semua komponen tersebut bergerak sekaligus dalam suatu rangkaian kegiatan yang terarah dalam rangka membawa pertumbuhan siswa ke tujuan yang diinginkan. Jadi, dapat dikatakan bahwa pengajaran merupakan suatu pola yang didalamnya tersusun suatu prosedur yang direncanakan.

3. Pengajaran sebagai suatu sistem
Pengertian pengajaran sesungguhnya lebih luas daripada hanya sebagai suatu proses atau prosedur belaka. Pengajaran adalah suatu system yang luas, yang mengandung banyak aspek, diantaranya :
a. Profesi guru
b. Perkembangan dan pertumbuhan siswa sebagai organisme yang sedang berkembang
c. Tujuan dari pendidikan dan pengajaran yang berpangkal pada filsafat hidup masyarakat
d. Program pendidikan atau kurikulum sekolah
e. Perencanaan pengajaran
f. Membimbing di sekolah
g. Hubungan dengan masyarakat pada umumnya dan hubungan dengan lembaga-lembaga /instansi-instansi pada khususnya.




4. Pengajaran identik dengan pendidikan
Proses pengajaran adalah proses pendidikan. Setiap kegiatan pengajaran adalah untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pengajaran memang bukan konsep atau praktik yang sederhana. Ia bersifat kompleks, menjadi tugas dan tanggung jawab guru yang seharusnya. Pengajaran itu berkaitan erat dengan pengembangan potensi manusia (peserta didik), perubahan, dan pembinaan dimensi-dimensi kepribadian peserta didik. Karena itu melaksanakan pengajaran tidak seperti menyaupkan makanan pada sang bayi. Organisasi pengajaran “tidak semisal organisasi jual bakso.” Dengan kata lain, tugas pengajaran (mengajar) adalah berat, kompleks, perlu keseriusan, tidak asal jadi atau sekedar coba-coba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
mahasiswi STKIP YPM bangko jurusan MIPA prodi matematika

Pengikut